Rabu, 21 November 2012

MEMBANGUN JEMBATAN INTEGRITAS KAUM INTELEKTUAL (RAUSYANFIKR) DENGAN RAKYAT JELATA


Era Globalisasi, Informasi dan Komunikasi merupakan sebuah fenomena universal yang ditandai dengan terbukanya jendela-jendela informasi dengan segala kompleksitasnya baik di kalangan negara maju atau negara-negara berkembang.  Ironisnya, era keterbukaan ini justru telah memutuskan jembatan Integritas antara kalangan intelektual dengan rakyat Jelata dalam proses interaksi sosialnya.

Indikator ini ditandai dengan adanya Kesalahan Persepsi bahwa Kaum Intelektual (Rausyanfikr) adalah Dewa Agung yang Eksklusif dan sulit untuk disentuh rakyat biasa dan keringnya cinta, kasih sayang serta kepercayaan antar keduanya. Padahal sesungguhnya diatas bahu Kaum Intelektual itu terpikul suatu tanggung jawab moral atas Kemerdekaan, Kesejahteraan dan Kedamaian Hati Rakyatnya.


Oleh : Relawan RUMAH MANUSIA, Rachman Bachtiar
(Widyaiswara Pertama BBPPKS-Banjarmasin)

Busur globalisasi yang telah diluncurkan ke segenap penjuru dunia saat ini bagaikan bilah pedang bermata dua. Pada satu sisi telah membuka cakrawala   pengetahuan manusia yang menakjubkan dan banyak melahirkan kalangan-kalangan Intelektual, sedang disisi lainnya justru menimbulkan tragedi bagi masyarakat tradisional yaitu buruknya jalinan integritas/ kesenjangan antara rakyat biasa dan rakyat kelas terpelajar (Kaum Intelektual). Di negara-negara barat, karena adanya sistem komunikasi dan pendidikan massa yang baik, maka terdapat suatu jalinan kerjasama  antara keduanya. Oleh karenanya, di negara seperti itu, seorang profesor tidak  akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi, berintegrasi dan akrab dengan kalangan bawah sekalipun. Sang profesor atau orang-orang intelektul tidak pula ditempatkan di angkasa aristokrasi, atau diperlakukan rakyat sebagai Dewa agung yang sulit untuk disentuh. Bahkan di Jepang sang profesor berkenan untuk mengajar di Sekolah-Sekolah Dasar.

KAUM INTELEKTUAL (RAUSYANFIKR)  
Rausyanfikr berasal dari kata Persia yang artinya : ”Pemikir yang Tercerahkan”. Dalam terjemahan Inggris disebut intellectual atau free-thinkers.
Menurut James MacGregor Burn : Seorang intelektual ialah orang yang terlibat secara kritis dengan nilai, tujuan, cita-cita yang mengatasi kebutuhan-kebutuhan praktis. Jadi seorang intelektual ialah orang mencoba membentuk lingkungannya dengan gagasan analistis dan normatifnya. Menurut Edward A. Shils, dalam International Encyclopedia of The Social Sciences, tugas intelektual ialah ”menafsirkan pengalaman masa lalu masyarakat ; mendidik pemuda dalam tradisi dan ketrampilan masyarakatnya ; melancarkan dan membimbing estetik dan keagamaan berbagai sektor masyarakat... ”     
Terjemahan bebas untuk istilah Rausyanfikr adalah kaum intelektual ; dalam arti yang sebenarnya, kaum intelektual yang dimaksud adalah bukan orang-orang yang semata-mata telah melewati pendidikan formal dengan gelar sarjana, mereka juga bukan sekedar ilmuwan yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka adalah orang-orang yang jiwanya terpanggil untuk memperbaiki masyarakat, menangkap aspirasi mereka, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah yang ada dalam masyarakatnya,  merumuskan dan mengkomunikasikan konsep-konsep dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang,

DISINTEGRITAS
Jika kita telaah, kondisi rakyat sekarang sedang merindukan suasana harmonis, tidak lagi terdapat kesenjangan antara Kaum Intelektual dan Rakyat Biasa,  Para Tokoh Keagamaan, Filosof-Filosof besar dan Kaum Inteligensia bisa hidup ditengah rakyat dan selalu memelihara interaksi sosial dengan mereka, dan norma-normalah yang senantiasa menjadi jembatan penghubung antara kelompok satu dengan yang lainnya. Sehingga suara rakyat bisa berkumandang membelah birokrasi dan terdengar di telinga kaum intelektual yang selanjutnya bergandengan berjalan bersama untuk mencapai cita-cita dan tujuan yaitu kehidupan masyarakat yang sejahtera dan merdeka lahir batin.
Namun dalam realitas yang ada, sistem pendidikan kita sekarang, telah melahirkan birokrat-birokrat dan generasi muda terpelajar yang hidup terbelenggu dalam benteng-benteng terisolasi bahkan telah menggali jurang pemisah antara mereka dan rakyat, dan tatkala mereka terjun ke masyarakat untuk berkarya (sebagai manifestasi pengamalan ilmu yang mereka peroleh dari pendidikan formal) si rakyat tetap ”tak-tergapai”. Akibatnya, rakyat hanya menganggap mereka sebagai golongan/ kelas eksklusif yang tidak dapat memberi manfaat apapun bagi mereka. Selama ini memang belum kita dengar ada seorang birokrat atau seorang ilmuwan misalnya, duduk satu tikar bersama rakyat untuk berbicara dan bergerak bersama-sama masyarakat melakukan langkah-langkah strategis bagi pembangunan, kesejahteran, kemerdekaan dan kedamaian hati rakyat sesuai konsep teori yang mereka miliki, demi mencapai cita-cita dan tujuan bersama.
Oleh karenanya, kami atas nama rakyat sangat mendambakan kehadiran Individu-Individu yang merasa terpanggil dan memiliki tanggung jawab moral untuk menyelamatkan dan mempersatukan komponen-komponen kehidupan sosial yang bercerai berai, yaitu  Membangun Sebuah Jembatan Integritas yang Merentang dari Stasioner Misterius Kaum Intelektual ke Arah Hati Rakyat. Penghubung antara dua kutub yang saling mengasingkan secara teoritis dan praktis.
                    
MEMBANGUN JEMBATAN INTEGRITAS
Dari mana kita mesti memulai  ?  Pertanyaan semacam ini hanyalah ada pada orang-orang yang memilki rasa tanggung jawab moral dan sangat berhasrat untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, dan individu semacam itu adalah yang tergolong kedalam Kaum Intelektul (Rausyanfikr) sejati, yang memiliki  tanggung jawab moral dan misi sosial tertentu dengan orientasi kesejahteraan dan kedamaian hati rakyat.
Siapa-kah Rausyanfikr itu ? setiap Rausyanfikr adalah seorang intelektual, tetapi tidak selalu seorang intelektual bisa menjadi sorang Rausyanfikr. Seorang Rausyanfikr adalah individu yang sadar terhadap kondisi kemanusiannya, masyarakatnya dan periode masa hidupnya, dan kesadaran semacam itulah yang bisa menganugrahinya rasa tanggung jawab moral.
Seorang Rausyanfikr akan lebih efektif jika ia juga seorang terpelajar, tetapi dengan berjalanya waktu, seseorang yang tidak berpendidikan formal pun  justru dapat memainkan peran yang lebih dominan dan penting di masyarakat. Suatu penelaahan terhadap masyarakat-masyarakat yang secara tiba-tiba tertranspormasikan dari kodisi buruk akibat imperialisme menuju suatu masyarakat yang cemerlang dan progresif, membuktikan bahwa pemimpin-pemimpin mereka seringkali berasal dari tokoh-tokoh yang bukan kaum Intelektual, seperti di Afrika, Amerika Latin, Indonesia saat perang melawan kolonial Belanda, telah melahirkan para pahlawan yang tak pernah memiliki suatu gelar apapun, juga di negara-negara Asia lain seperti saat perang Vietnam, ternyata para pemimpin revolusioner mereka bukanlah berasal dari kalangan kelas terpelajar yang bertitel tertentu atau ahli strategi perang. Ternyata intelektualitas mereka, yang terlahir dari rakyat biasa telah mampu membangun integritas, semangat dan keyakinan utuk menjadi bangsa yang merdeka, sejahtera dan terhormat di mata dunia.
Dalam suatu periode ketika manusia menemui jalan buntu karena krisis global seperti sekarang ini, dan Dunia ketiga tengah bergulat melawan berbagai permasalahan sosial yang berdimensi multi krisis, seorang Rausyanfikr   membimbing masyarakatnya agar  sadar dan ikut memikul tanggung jawab dalam proses pemecahan masalah-masalahnya.  Berdasarkan definisi ini, seorang Rausyanfikr bukanlah orang-orang yang memproklamirkan diri sebagai pewaris Galileo, Copernicus, Socrates, Aristoteles, Ibnu Sina atau   para Wali, tapi orang-orang yang memiliki itikad, komitmen dan tanggung jawab moral untuk meneruskan dan menyempurnakan karya dan cita-cita para pendahulunya.
Tugas dan tanggung jawab Seorang Rausyanfikr serupa dengan kaum revolusioner dan para pemimpin masa silam. Individu ini lebih merupakan milik rakyat ketimbang milik suatu ajaran pemikiran, teknik atau sains tertentu, ia akan selalu hadir ditengah-tengah rakyat dan mempersembahkan semboyan, pandangan, inovasi, energi dan animasi sosial kedalam jantung kesadaran masyarakat mereka.
Misi dan upaya revolusioner semacam itu akan menyebabkan goncangan, transpormasi, keyakinan dan motivasi dan animasi sosial kedalam masyarakat yang sering macet terjebak oleh status quo. Rausyanfikr  mengambil peran sebagai individu-individu yang memiliki kesadaran dan rasa tanggung jawab untuk menyampaikan Karunia Tuhan (Kesadaran) kepada masyarakat.  Karena  kesadaranlah yang akan mampu mengubah ideologi dan kondisi masyarakat dari kehancuran   menjadi sesuatu kekuatan yang kreatif dan menggelora,  perubahan itu akan melahirkan peradaban, budaya yang cemerlang, pahlawan-pahlawan umat dan menjadikan terbangunnya Jembatan Integritas antara dua kubu yang selama ini terputus,

MAKNA INTELEKTUALITAS
Uraian diatas telah menjawab pertanyaan : ”Dari mana Kita Mesti Memulai ?” .Tugas seorang Rausyanfikr yaitu menyampaikan Risalah Tuhan kepada umat manusia yang beku dan terbelakang. Ketahuilah, bahwa ini bukanlan daerah kekuasaan (ranah) seorang ilmuwan, yang selalu menunjukan fungsi-fungsi tegas, seperti diagnosa atas suatu kondisi sosial masyarakat miskin kini, penemuan dan pemanfaatan sumber daya alam atau sumber daya manusia misalnya atau pemenuhan kebutuhan material kehidupan manusia. Biasanya, Seorang Ilmuwan menemukan Realitas... sedangkan Seorang Rausyanfikr   menemukan Kebenaran, kalau seorang Ilmuwan menyatakan   ”ini Ungkapan yang Sebaiknya” ... maka seorang Rausyanfikr akan menyatakan ”itu Bukanlah Cara Sebaiknya ... tapi Seharusnya ...”  Ilmuwan berbicara dengan bahasa universal .... Rausyanfikr akan berbicara dengan bahasa kaumya... Ilmuwan bersikap netral... Rausyanfikr harus melibatkan diri pada Ideologi. Rausyanfikr  akan mengajak rakyat dan bersama-sama melakukan langkah-langkah inovatif sekaligus membimbing dan memberi petunjuk bagaimana cara melakukannya. ini adalah suatu kenyataan bahwa :  Ilmu Pengetahuan adalah Kekuatan ... sedang Pemikiran Merdeka (Rausyanfikr) adalah Cahaya (Nur).



INTELEKTUAL ORGANIK
Dalam kancah kehidupan sosial masyarakat ada banyak terdapat Intelektual Organik bak mutiara yang berkubur oleh lapuknya usia zaman. Menurut Antinio Gramsci, Intelektual Organik adalah :  Golongan masyaralat yang sadar dan mampu menyadarkan serta menggerakkan rakyat dalam merespon kepincangan-kepincangan baik sosial, budaya, ekonomi atau politik. Intelektual Organik adalah sebagai intelektual yang secara organis berakar dalam rakyat dan bagian dari rakyat. ”Semua orang adalah Intelektual, maka seseorang dapat mengatakannya  demikian, tetapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual dalam masyarakat” (Gramsci 1971, hal 121).
 Dengan kata lain, senantiasa ada intelektual yang memainkan peran dalam Revolusi Kesadaran sebagai pencetus dan penyebar ideologi dalam masyarakat. Melalui pencerahan dan pengetahuan yang luhur seperti itulah, rasa tanggung jawab moral dibangkitkan, demi memandu seorang manusia ke jalan yang benar, bukannya melalui kajian dari ilmu fisika, kimia, sastra, biologi, sosial atau pun hukum. Itulah sebabnya mengapa  banyak rakyat biasa yang tidak berpendidikan sering dapat berperan dan mampu memberi warna baru dalam kehidupan masyarakatnya yang layu, untuk kemudian memandu mereka ke arah tujuan yang diinginkannya ; sementara banyak juga ilmuwan  yang tidak mengambil satu langkah pun dalam proses membentuk kesadaran, keyakinan, cinta, kasih sayang  dan ideologi ke dalam masyarakat mereka.
Suatu realita menyatakan, bahwa seorang profesor ahli kimia, matemetika, biologi, ekonomi, hukum  bahkan ahli nuklir sekalipun sampai saat ini belum mampu berbuat sesuatu tatkala mengahadapi kondisi masyarakat yang sedang diterpa krisis Ideologi, keyakinan, spititual dan sosial seperti kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dekadensi moral, krisis kepercayaan, anarkis dan hal lainnya.  Tujuan seorang Rausyanfikr adalah membentuk kewaspadaan dan keyakinan serta memilih suatu cita-cita bersama masyarakat untuk masyarakat itu sendiri.
Seseorang tidak akan mengakui dirinya sebagai seorang Rausyanfikr hanya karena ia pernah belajar di Eropa/ Amerika dan memperoleh Gelar tertentu. Selama ini kita telah salah mempersepsikan bahwa Rausyanfikr, Ilmuwan, dan Intelektual sebagai predikat yang sepadan, sehingga kita tidak dapat mengidentifikasikan mana Rausyanfikr, mana yang kategori Ilmuwan dan mana yang  Intelektual. Ternyata panggilan jiwa, rasa tanggung jawab, keyakinan, kejujuran, ketulusan dan ahlak mulia bukanlah suatu yang dapat dipelajari di Universitas-Universitas terkenal sekalipun, karena individu-individu seperti mereka bukanlah lulusan Hardvard, Sorbonne, Mesir  atau Louisiana Police Academy Bauten Roudge Amerika (Sekolah Kepolisian yang mencetak Pasukan Anti Teroris).


JADI INTINYA :       
Rausyanfikr (Kaum Intelektual) adalah mereka yang punya visi dan misi hidup, tidak larut dalam dinamika hidup, tapi justru mampu melarutkan kehidupan dalam pandangannya yang cemerlang,  ia adalah individu yang tetap sadar akan kenyataan bahwa manusia di wilayah manapun berada, dengan segenap dimensi dan bakatnya bisa saja menjadi korban  penindasan, ketidak-adilan, konsumeristis, hedonis, terjebak dalam kondisi kebebasan seksual, keterbelakangan, kemiskinan, kelaparan dan kegelapan ilmu pengetahuan.  Seorang Rausyanfikr dilingkungan yang kondisi masyarakatnya seperti itu, akan selalu gelisah dan bertanggung jawab untuk membawakan semboyan-semboyan, tujuan, serta ideologi-ideologi yang relevan dan asli kepada masyarakatnya serta membimbing mereka untuk hijrah dari kondisi kontradiktif yang telah menghunjam jantung mereka agar kembali sadar. Seorang Rausyanfikr akan membangun kesadaran diri dan pola fikir progresif masyarakat serta menebarkan cahaya ilmu kedalam eksistensi rakyat yang hatinya dingin dan  beku, serta menyalurkan energi spiritual demi membangkitkan dan memotivasi manusia untuk menjadi abdi kehidupannya dengan setia, sehingga mereka akan Back to Basic pada kepribadian, religius, budaya, identitas, keberfungsian sosial dan sejarah bangsanya.       

KONSEP STRATEGI DEMI TERBANGUNNYA INTEGRITAS
ANTARA KAUM INTELEKTUAL DENGAN RAKYAT

1.    Back to Basic pada sistem pendidikan yang berdimensi akar budaya bangsa sendiri,  didiklah bangsa ini tidak saja dengan berbagai ilmu pengetahuan yang hanya merupakan konsumsi otak, tapi juga sinarilah nurani mereka dengan cahaya  ilmu ukhrowi yaitu agama dan nilai-nilai kepribadian bangsa sendiri,  agar mereka terlahir sebagai Rausyanfikr yang  progresif dan revolusioner serta bertanggung jawab dalam membantu masyarakat  untuk hijrah dari kontradiksi budayawi asing yang dipaksakan ke alam sadar mereka agar segera bangkit dan memiliki keyakinan
2.    Dalam konteks pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat, tebarkanlah    Rausyanfikr yang dapat menemukan dan menggali permasalahan dan bersama masyarakatnya melakukan langkah-langkah strategi pemecahan masalah dengan memanfaatkan sumber daya internal maupun eksternal yang ada disekitarnya
3.    Seyogyanya, masyarakat kita dibangun atas dasar  ideologi yang responsif, prinsip dan cita-cita luhur yang bersendikan agama, dengan nilai-nilai agama kita mempunyai konsep keikhlasan, kedisiplinan, kesyahidan/ jihad.  Dengan harapan kita tidak lagi memilki para pemimpin yang selalu mencari perlindungan di Goa-Goa, Benteng-Benteng Militer atau Bihara-Bihara,  tetapi mereka orang-orang yang berani terjun dikancah perang melawan penderitaan rakyat atau bahkan siap untuk dipenjara.
4.    Untuk membimbing dan menyelamatkan manusia, membentuk keyakinan, cinta dan kasih sayang, power dan kesadaran  baru, serta menyadarkan mereka akan bahaya kebodohan, ketakhayulan, penindasan ketidak adilan, kemiskinan dalam masyarakat, maka diperlukan keberadaan Rausyanfikr  di berbagai kalangan baik itu di kalangan birokrasi maupun dalam stratifikasi sosial masyarakat. Mereka harus star dengan energi religius dan keyakinan. jangan seperti kondisi saat sekarang yang justru banyak perilaku-perilaku individu yang menentang prinsip-prinsip dan kosep ideal  religius/ agama sejati,.............

REFERENSI :

1. Ali Syari’ati, Pengantar : Drs. Jalaludidin Rahmat MSc. Ideologi Kaum Intelektual Suatu Wawasan Islam, Bandung : Mizan, April  1984

2. Mansour Faqih, Antonius Maria Indrianto, Eko Prasetyo, Menegakkan Keadilan dan Kemanusiaan : Pegangan untuk Membangun Gerakan Hak Asasi Manusia, Insist Press, Maret 2003.

3. ...... Manifesto Intelektual Organik, Diskusi HMI Komisariat SAINTEK UIN Malang, 21 Mei 2005, Internet, Google, 23 Desember 2008.

4. Masmulyadi, HAMKA dan Intelektual Organik (Catatan 100 Tahun Prof. Dr. HAMKA), Internet, Google, 23 Desember 2008.

5. Kholis Malik, Diktator Tanpa Hegemoni VS Revolusi Kesadaran Kita, Harian Pelita, Internet, Google, 23 Desember 2008.

  











Tidak ada komentar:

Posting Komentar